happistar




 agen bola judi online
Published On: Sat, Oct 20th, 2018

Chelsea Vs Manchester United: Perang Filosofi Sarri dan Mourinho

Laga besar antara Chelsea dan Manchester United akan tersaji dalam lanjutan Liga Inggris di Stamford Bridge, Sabtu malam, 20 Oktober 2018. Salah satu daya tarik pertandingan ini adalah faktor pelatih kedua tim.

Jose Mourinho, yang kini menangani MU, sebelumnya pernah dua kali bertugas di Chelsea. Sepeninggalnya, tiga tahun kemudian, Maurizio Sarri justru mampu merevolusi permainan The Blues.

Pada masa tugas keduanya di Chelsea (2013-2015), Mourinho memberikan gelar Liga Inggris dan Piala Liga. Tapi, gaya bermainnya tak ada perubahan dibandingkan masa tugas pertamanya (2004-2007): pragmatis dan lebih cenderung bertahan.

Ketika dia dipecat, Antonio Conte yang jadi penerusnya juga tak banyak memberi warna baru. Gaya langsung dan negatif, kadang hanya menguasai bola sebanyak 29 persen, jadi andalan untuk mengejar trofi.

Kini, di bawah Sarri, semua itu berubah. Pelatih Italia berusia 59 tahun itu menghadirkan permainan indah yang mengandalkan penguasaan bola. Media Italia bahkan memiliki istilah sendiri untuk menggambarkannya: Sarri-ball.

Gaya tersebut jadi ciri khas Sarri dan sudah itu sudah berhasil ditampilkan di klub lamanya, Napoli. Sarri menyebut gaya bermain timnya itu dengan “penguasaan bola dengan kecepatan yang tinggi”.

Statistik menunjukkan, Chelsea kini memang sangat irit dalam memanfaatkan umpan bola panjang. Mereka hanya melakukannya rata-rata 48 kali per laga. The Blues ada di urutan ke-19 dalam daftar tim paling sering mangandalkan umpan panjang, hanya ada di atas Manchester City yang memang selalu mengadalkan gaya umpan pendek kegemaran Josep Guardiola.

Sarri membawa Jorginho dari Napoli. Gelandang ini jadi mesin utama gaya baru Chelsea. Ia bukanlah gelandang penghancur, seperti Nemanja Matic yang dibawa Mourinho ke Manchester United. Ia lebih tepat disebut sebagai kreator. Umpan-umpan akurat jadi andalannya. Ia rata-rata mampu menciptakan umpan tepat sasaran 106 kali per laga, yang tertinggi dibandingkan pemain lain di Liga Inggris.

Yang menarik, 10 dari pemain yang ditangani Sarri saat ini juga merupakan pemain dari masa Mourinho. Mereka kini mengalami transformasi peran di lapangan. N’Golo Kante kini diberi keleluasaan untuk membantu serangan. Makanya, di bawah Sarri pemain Prancis itu mampu mencetak gol pertamanya buat Chelsea.

Perubahan besar lain dialami Eden Hazard. Di bawah Mourinho dan Conte, posisinya kerap jadi sorotan. Piawai dalam menyerang, gelandang asal Belgia ini dianggap kurang memberi sumbangan dalam pertahanan. Kekurangan itulah yang kerap dituntut Mourinho dan Conte untuk diperbaiki Hazard di lapangan.

Sarri memilih melakukan pendekatan berbeda. Alih-alih memaksa Hazard membantu pertahanan, ia lebih sering menempatkan Hazard sebagai false 9. Karena itu gol demi gol pun terus tercipta dari pemain ini.

Gaya bermain yang menghibur itu banyak dipuji karena memberikan hasil bagus. Kini tim itu berada di posisi kedua klasemen dengan nilai 20 dari 8 laga, sama dengan Manchester City yang ada di atanya dan Liverpool yang ada di bawahnya. MU sendiri kini hanya menempati posisi kedelapan klasemen dengan nilai 13.

Karena kompetisi baru bergulir delapan pekan, tentu saja terlalu dini untuk menyebut gaya baru dari Sarri telah memberi buah yang manis. Masih akan banyak cobaan yang dialami Chelsea sepanjang musim ini, termasuk dari Manchester United pada malam nanti. Tentu, Mourinho akan mati-matian menjaga gengsi agar timnya tak kalah di laga nanti, termasuk dengan menampilkan gaya super-negatif seperti yang kerap dia peragakan saat memimpin timnya melawan klub dengan gaya bermain seperti Chelsea saat ini.

loading...

About the Author

-

Berita Terbaru

[X] close
AFAPOKER RGOBET