agen bola judi online
Published On: Tue, Feb 14th, 2017

Sederet Bintang Eropa Berdarah Indonesia yang Tak Memilih Garuda

Indonesia memang bukan negara dengan tradisi sepak bola yang mendunia. Namun, Indonesia mempunyai pemain-pemain keturunan di sepak bola yang mendunia.

Bukan berita baru jika sepak bola Indonesia sempat menjadi negara Asia yang cukup ditakuti. Era 1950-an sampai 1970-an dikenal sebagai era emasnya bola Indonesia. Kini, meski prestasi bola Indonesia masih berada di lingkup Piala AFF saja, tapi nama bangsa kepulauan ini mendunia lewat pemain keturunan.

Pemain keturuanan Indonesia tersebar di beberapa negara Eropa. Belanda menjadi negara yang banyak memiliki pemain keturunan Indonesia. Masa penjajahan negara Oranje itu di Indonesia yang cukup lama, membuat ada ikatan emosional yang didapat oleh kedua negara.

Beberapa pemain keturunan malah menajdi pesepakbola dunia. Sayangnya, mereka lebih memilih bermain untuk negara kelahiranya dan bukan negara leluhurnya.

Siapa saja pesepakbola keturunan yang namanya mendunia?

Giovanni van Bronckhorst

Boleh dikatakan pemain ini yang menjadi pemain keturunan Indonesia yang paling sukses. Gio pernah menjadi juara liga di tiga negara, yakni Skotlandia (Rangers, Scottish Premier League 1998/99 dan 1999/2000), Inggris (Arsenal, Premier League 2001/02), dan Spanyol (Barcelona, 2004/05 dan 2005/06). Tapi, sialnya, ia tak pernah juara di negaranya, Belanda.

Tapi, setidaknya Gio pernah dua kali mengangkat piala KNVB (1995 dan 2008) dan jangan lupakan ban kapten yang tersemat di lengan kanannya saat Belanda mencapai final Piala Dunia 2010.

Gio memiliki darah Indonesia dari ibunya yang bernama Fransien Sapulette. Sang ibu berasal dari Maluku, dan menjadi penjaga bahasa Indonesia di keluarga Gio. Sang ayah, Victor van Brockhorst sangat fasih berbahasa Indonesia karena memang digunakan di keluarga.

Sayang, Gio tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar. Kunjungan ke Jakarta pada 2011, Gio terlihat terbata-bata menggunakan bahasa Indonesia. Ia lebih banyak menggunakan bahasa Inggris ketika berkomunikasi.

Di timnas Belanda, Gio mengoleksi 107 caps dan 6 gol. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Gio – yang memang memiliki mimpi besar menjadi pemain kelas dunia sejak memulai kariernya di Feyenoord.

Radja Nainggolan

Selain Gio, nama Radja Nainggolan juga menjadi pesepakbola keturunan Indonesia yang namanya dikenal dunia. Pemain yang memiliki darah Batak ini menjadi pemain Belgia yang merintis karier sepak bola di Italia. Besar bersama Piacenza, Radja kini membela klub elite Italia, AS Roma.

Radja lahir dan besar di Anterwp dari ayah bernama Marianus Nainggolan berdarah Batak dan ibu bernama Lizy Bogaerts berdarah Belgia dari suku Flandria. Ayahnya meninggalkan dirinya dan sang adik, Riana pada usia lima tahun. Sang ibu yang banting tulang bekerja siang dan malam demi menghidupi Radja dan Riana. Liz menjadi orang terpenting dalam hidup Radja.

Maka tak heran ketika Liz meninggal pada 2010, dia merajah gambar sayap di punggungnya dengan nama, tanggal lahir, dan tanggal meninggalnya ibunya.

Radja datang ke Italia pada tahun 2005 dan bermain di Piacenza Primavera. Setahun kemudian dirinya masuk ke tim senior dan selama empat tahun bermain di publik Leonardo Garilli. Setelah sempat ke Cagliari, kini ia sukses bersama AS Roma.

Bermain di klub besar tentu semakin mempopulerkan namanya di dunia. Tentu dengan bermain di kompetisi dan klub besar dunia, Radja lebih memilih bermain di timnas Belgia ketimbang Indonesia. Di Belgia, kesempatan untuk bermain di Piala Dunia pun ia dapat. Hal yang belum tentu terjadi jika ia memilih bermain untuk Skuat Garuda.

Meski mengaku pernah bertemu dengan ayahnya pada 2013 ketika datang ke Indonesia, Radja mengaku tak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Marianus. Sosok asing yang dinilai tiba-tiba muncul di hadapannya di saat semua kegemilangan sudah berada di dalam genggamannya.

Toh, ia tetap mempertahankan ke-Indonesia-annya. Ia masih mempertahankan nama Nainggolan di jersey yang ia pakai, dan itu menjadikannya ia dekat dekat dengan tanah leluhur ayahnya.

John Heitinga

Nama John Heitinga sudah pasti diketahui oleh penikmat sepak bola dunia. Heitinga yang besar di Ajax Amsterdam pernah bermain di berbagai klub besar dunia, seperti Everton, Herta Berlin, dan Atletico Madrid.

Konon, ayah John lahir di Jakarta dan sang kakek Gijsbert Johannes Heitinga lahir di Belitung. John sangat dekat dengan kakeknya. Terbukti ia lebih memilih nasi daripada kentang, karena naluri negara leluhur kakeknya.

John sudah pasti lebih memilih berkostum timnas Belanda karena ia menjadi pemain yang diandalkan Ajax. Di klub berjuluk De Joden itu, John punya caps yang lumayan banyak, yakni 152 kali dan 17 gol.

Selain itu, pemain yang berposisi sebagai bek itu juga pernah bermain di Spanyol bersama Atletico Madrid, lalu Inggris bersama Fulham dan Everton. Dengan kariernya tersebut, tentu bukan suatu yang sulit menembus timnas Belanda. Selain itu, karier sepak bolanya juga dimulai di Belanda.

Emilio Audero Mulyadi

Emilio lahir di Mataram pada 18 Januari 1997 silam. Tak seperti Radja, Emil masih berhubungan baik dengan sang ayah, Edi Mulyadi. Meski kini, Emilio tinggal bersama sang ibu, Antonela Audero di Italia, Emil tetap berkomunikasi dengan sang ayah. Permasalahan izin tinggal menjadi kendala Edi bisa menemani Emil di Italia.

Emil yang menembus tim primavera Juventus menjadi pembicaraan di Italia. Bahkan ia sudah didaftakan Juventus ke Liga Champions, yang artinya menjadi deputi dua kiper senior Juventus, Gianluigi Buffon dan Neto.

Sayang, secara tegas Emil menolak kemungkinan untuk berpindah kewarganegaraan. “Benar saya lahir di Indonesia, tetapi saya tidak memiliki paspor Indonesia,” katanya. “Saya hanya akan membela Tim Nasional Italia.”

Emil memilih Italia karena faktor kondisi kedua negara yang sangat berbeda jauh. Apalagi dirinya pernah terpilih sebagai The Young Italy Talents of The Future 2012. Di timnas Italia pun kariernya cukup bagus, Emil selalu menjadi pilihan utama di Italia U-17 hingga U-20. Itulah yang membuatnya berambisi berkostum Italia senior.

Meski, kabarnya, PSSI memasukkan namanya ke dalam prioritas utama yang akan dinaturalisasi.

Massimo Luongo

Pemain yang kini bermain untuk Queens Park Rangers (QPR) itu mendapat darah Italia dari ibunya, Ira Luongo. Sang ibu menikah dengan pria asal Italia, Mario Luongo yang merupakan ayah dari Massimo.

Menariknya, ibunda Massimo masih keturunan dari Sultan Bima dan Dompu, AA Sirajuddin. Dari situlah, keterikatan emosional Massimo dengan Indonesia sangat dekat.

Lahir di Sydney 24 tahun silam, Massimo besar bersama tim junior Tottenham Hotspur. Memulai karier di Tottenham, membuat namanya dilirik timnas Australia. Tentu saja, kesempatan untuk bermain di level Piala Asia dan dunia bakal ia dapatkan saat memilih bermain bersama Socceroos.

Keputusan tersebut ternyata tidak meleset. Massimo menjadi pemain terbaik Piala Asia 2015 dan menjadi andalan Australia saat ini. Kini Massimo sudah mengoleksi 21 caps dan lima gol, bagi tim asuhan Ange Postecoglou itu.

loading...

About the Author

-

Berita Terbaru