agen bola judi online
Published On: Fri, Aug 3rd, 2018

Protes Dicurangi Wasit, Klub Ini Cetak Gol Bunuh Diri Massal hingga Kalah 0-149

Hasil akhir dalam sebuah pertandingan sepak bola tidak jarang dihiasi dengan terciptanya kemenangan dengan banyak gol. Akan tetapi, semakin ketat laga yang tersaji, maka jangan berharap akan terjadi skor dengan kemenangan mencolok, meskipun hal tersebut bisa saja tersaji.

Sebagai contoh saat timnas Jerman melumat Brasil di Piala Dunia 2014 dengan skor telak 7-1. Juga saat La Furia Roja membungkam Italia di final Piala Eropa dengan skor 4-0.

Di level klub, Real Madrid menghancurkan Juventus di final Liga Champions dua musim lalu dengan skor 4-1. Meskipun ada pula tim lain yang mampu mencetak lebih dari lima gol tanpa balas hingga 90 menit laga.

Seiring kian meningkatnya persaingan antarklub, maka sangat jarang ditemukan ada tim yang mampu menang hingga sembilan atau pun hingga 20-0 sekalipun. Akan tetapi, fenomena menang dengan skor hingga ratusan berbanding nol gol faktanya justru terjadi.

Skor sangat mencolok terjadi di kompetisi sepak bola Madagaskar 2002 silam. Gol yang dihasilkan sangat tidak masuk akal jika dibagi dengan waktu pertandingan yang hanya 90 menit.

Pada babak playoff Liga Madagaskar, AS Adema mengalahkan Stade Olympique de l’Emyrne (SOE) dengan skor 149-0. Skor yang mengalahkan hasil kemenangan besar yang ada di kompetisi Benua Biru. Bahkan jika diakumulasi dengan kemenangan besar Madrid di era milenium, skor tersebut tidak akan pernah tertandingi.

Alhasil, rekor kemenangan tim yang kerap menggunakan jersey serba hijau tersebut tercatat dalam Guinness Book of Record Dunia sebagai salah satu kesebelasan mampu menang dengan skor sangat banyak.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan atau harga diri kiper klub SOE setelah laga tersebut. Meski tidak diberitakan, mungkin saja sang kiper segera memutuskan gantung sepatu usai kebobolan 149 gol.

Rupanya, skor besar tersebut terjadi karena ada kekecewaan dari klub SOE kepada wasit dan operator pertandingan. Mereka mengaku dicurangi pada partai sebelum tragedi 149-0 itu terjadi.

Menjamu DSA Antananarivo, sang pengadil lapangan mengambil keputusan kontroversi yang menjadikan laga berkesudahan imbang 2-2. Hasil tersebut dinilai sangat merugikan oleh SOE sehingga gagal merengkuh gelar juara Liga Madagaskar.

Sebagai pilihan para pemain memasukkan bola ke gawang sendiri hingga lahirlah skor fantastis tersebut. Akibatnya para pemain yang terlibat aksi jebol gawang sendiri mendapat hukuman larangan bermain.

Tidak itu saja, selama tiga tahun klub Afrika itu juga dilarang aktif dalam kompetisi bola dalam negeri selama tiga tahun. Ancaman lebih juga mengintai apabila mereka mengulangi hal sesat itu.

Aksi bunuh diri masal pemain SOE itu menunjukkan, profesionalitas wasit dalam memimpin laga dapat mempengaruhi semangat untuk bermain. Akan tetapi, di bawah semboyan Fair Play, langkah yang diambil Olympique de l’Emyrne sangat berlebihan dan tidak layak untuk dibenarkan.

loading...

About the Author

-

Berita Terbaru

[X] close